Aku, Putriku dan pisang batu
Aku duduk di ruang tengah, Adikku berlari terburu-buru sambil berkata ''Aku terlambat.'' kemudian keluar rumah dan pergi, ''mungkin dia terlambat sekolah.'' pikirku.
Angin bertiup kencang hingga pohon pisang dibelakang rumah tumbang, kulihat seorang gadis kecil berlari ketakutan masuk kedalam rumah, dia adalah Putriku.
Dia menghampiriku, ''AYah, Dede takut.'' katanya, kurasakan tubuhnya bergetar, tapi Aku tak menghiraukannya.
Semenjak istriku meninggalkan kami Aku merasa frustasi, merasa dihianati, merasa menjadi manusia paling malang didunia, mungkin Aku sudah gila, Aku tak mau bekerja, bahkan keluar rumahpun tidak, pekerjaanku hanya berdiam diri duduk dikursi menyesali semua yang terjadi, istriku pergi dengan alasan Aku yang sering marah, ya Aku sadar dan menyesali sikap burukku, istriku memilih pergi dengan lelaki lain, entah apa yang diharapkan dari lelaki itu, sudah enam bulan Aku seperti ini, menggila, tak peduli dengan apa yang terjadi sekarang.
Dua hari berlalu, aku masih duduk di ruang tengah, dikursi yang sama, makan jika Adikku menyiapkannya, mandipun hanya dua hari sekali, sungguh Aku tak mampu bangkit dari keadaan ini, Adikku berlari seperti tempo hari dia berkata ''Aku benar-benar kesiangan.'', ku lihat jam menunjukan pukul delapan, Aku ingat tadi malam Adikku mencuci baju, mungkin dia kecapekan sehingga bangun kesiangan, Aku sudah tak mandi dua hari, badanku terasa kaku, Akupun bangkit dari dudukku, berjalan ke kamar untuk mengambil handuk, kulihat Putriku sedang minum, Aku sedikit memperhatikan, Putriku mulai tumbuh, Aku menghitung umurnya, sebulan lagi akan menginjak empat tahun, kulihat matanya seperti ingin menangis, tapi ketika melihatku senyumnya langsung mengembang, ''Ayah mau mandi?'' tanyanya, Aku tak mempedulikannya, Aku segera meneruskan langkahku menuju kamar mandi di belakang rumah, kulihat pohon pisang batu yang roboh diterpa angin mulai ada yang menguning.
Selesai mandi Aku kembali melihat pisang batu itu, tapi nampaknya pisang yang menguning tak ada, ''ah peduli apa.'' pikirku, Aku melihat kulit pisang di tempat sampah, aku terhenyak mengingat Putriku yang seperti ingin menangis, mengingat Adikku yang bangun kesiangan, Aku bergegas mencari Putriku.
Aku menemukannya di samping rumah, kulihat dia sedang mengunyah, ditangannya buah pisang batu yang sudah tak berkulit, air mataku menetes, Putriku tak melihatku, dia sibuk menikmati pisang dimulutnya, ya memang tidak buruk, Akupun pernah memakan pisang batu, tapi itu hal yang tak lazim, dimasa ini tak ada orang yang mau makan pisang batu, Aku menghampirinya lalu menggendongnya, ''Dede lapar?'' tanyaku, ''iya, ini maem pisang.'' jawabnya dengan takut-takut, ''itu kan pisang batu, gak enak.'' sambungku, ''enak kok, manis.'' katanya dengan senyum yang tak meyakinkan, ''beli jajan aja yuk, buang pisangnya sayang.'' Aku barkata gemetar, Aku merasa seperti menelantarkan putriku, Aku tidak lebih baik dari istriku yang meninggalkan kami, ini tak adil untuk Putriku, Aku pun memeluk Putriku sambil menangis, ''Ayah jangan nangis, katanya mau beli jajan.'' katanya sambil menyeka pipiku, ''emmmuach.'' tiba-tiba dia menciumku dan tertawa, Aku pun tersenyum dan tak bisa berkata apa apa, Akupun segera masuk kamar dan menghampiri laci tempat dulu aku menyimpan uang, beruntung masih ada beberapa lembar uang simpananku, Aku menggendong putriku dan pergi menuju warung, ''Ayah mau keluar rumah?'' putriku bertanya, ''iya sayang.'' jawabku, ''Dede sayang Ayah, Ayah jangan sedih-sedih terus ya, nanti Dede sedih." Kata anakku, kulihat binar matanya yg memberikan aku kekuatan dan harapan, dan aku tersenyum sambil melangkah menuju warung yg berjarak 3 rumah dari rumahku, sesampainya disana dengan lantangnya putriku berkata "dede digendong ayah dong bude." "ehhh dede Intan, senang sekali digendong ayah." Kata yg punya warung yang adalah kakak tiriku, aku sering melihatnya dirumahku, mungkin dia yg mengurus putriku Intan ketika adikku Aulia bersekolah, tak terasa air mataku menetes membasahi pipiku, mungkin aku menangis karena membayangkan bagaimana putriku hidup tanpa kedua orangtuanya, aku merasa sangat berdosa terhadap putriku, dan aku berjanji dalam hatiku aku akan mengurusnya dan membuatnya bahagia.
"ayah jangan nangis, katanya mau beli jajan, milih dong." Kata Putriku sambil tersenyum, lagi-lagi binar matanya seperti memberikan kekuatan untukku, "iya sayang, dede mau ayah masakin nasi goreng aja ya." "nasi goreng dede suka dong ayahku", kata putriku "terus jajannya apa de?." Tanyaku, "nasi goreng saja ayah, jangan beli jajan terus nanti uangnya habis kata bude." Jawabnya, "iya anakku yg pintar." Aku berkata sambil menciumnya, dan putriku tertawa terbahak-bahak karena geli terkena jenggotku yg lama tak bercukur.
"mbak, kasih saya bahan-bahan untuk membuat nasi goreng." Kataku kepada kakak tiriku, "iya, akan aku siapkan," jawab kakak tiriku sambil menimbang telur dan memasukkannya kedalam kantong plastik, "ini kemajuan besar, kasihan anakmu, jangan telantarkan dia lagi, kamu masih beruntung mempunyai anak seperti Intan.", "iya mbak, terimakasih selama saya menjadi tak waras mbak sudah mengurus Intan, saya akan mengurusnya dan berusaha untuk memberikannya yg terbaik, Intan adalah kekuatan saya mbak." Jawabku, "mbak mengerti apa yg kamu rasakan, bila kamu terus menerus menyesali yang sudah terjadi dengan menelantarkan anakmu , itu tidak adil untuk anakmu, teruslah berjuang untuknya." Sambungnya seraya menyerahkan belanjaan "iya mbak, berapa ini mbak?." Setelah itu aku pulang.
Sesampainya di rumah aku segera masuk ke dapur, lalu menurunkan putriku dari gendonganku di kursi dekat dengan kompor, "dede duduk saja, lihat ayah masak." Kataku seraya membuka plastik belanjaan dan mulai memasak, "nanti kalau sudah besar dede yg masak untuk ayah." Katanya sambil tersenyum, "iya anakku, ini nasi gorengnya dikasih telur mata sapi, nanti dede makannya sepiring berdua sama ayah ya.", setelah siap saji kami pun makan berdua, aku bahagia melihat putriku memuji hasil masakanku, melihat dengan lahap dia makan, mendengar tawanya ketika dia berusaha menyuapiku. Ini membuatku sadar bahwa bahagia adalah ketika kita berusaha merasakan kebahagiaan, bukan ketika kita mencari kebahagiaan.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar